jump to navigation

Kembali kepada kita-nya..! 28 April 2017

Posted by agfi68 in DUIT, mindset.
Tags: , , , ,
add a comment

Banyak di luar sana berbagai macam buku, pelatihan, seminar, talk-show┬ádan lain sebagainya yang terkait dengan topik PEMBERDAYAAN DIRI, dengan berbagai macam nama, teknik maupun metode… Dengan berbagai macam iklan yang begitu menggoda, begitu sugestif, bahkan ada yang berani memberikan jaminan uang kembali, garansi total, bahkan tak jarang dengan memberikan bonus-bonus yang nilainya bisa mencapai sekian kali lipat dari biaya pelatihan-nya sendiri…

Bukan hal yang baru dan, menurut saya, cenderung bikin kita malah tambah bingung dst…

Mengapa?

Ya coba bayangkan saja, berapa banyak yang berhasil? Berapa banyak kemudian berubah perilakunya? Berapa banyak yang mengalami pencerahan? Berapa banyak yang kemudian kembali lagi ke perilaku lama, yang tidak memberdayakan? Berapa banyak yang kemudian hidupnya stagnan, tanpa perkembangan sama sekali, gitu-gitu saja? Berapa banyak yang semangat-nya kembali kendor? Berapa banyak yang sekedar mendapatkan “having fun” ikut pelatihan? dan masih banyak lagi pertanyaan yang bisa diajukan…

Intinya apa?

Karena jelas intinya PEMBERDAYAAN DIRI, dan tentu saja sumber aslinya ada di dalam diri kita masing-masing. Ini seperti yang pernah saya alami sekian puluh tahun yang lalu, beli buku-buku motivasi, ikut pelatihan2 motivasi dan pemberdayaan diri dan masih banyak lagi… Lantas apa yang saya peroleh…? Hampir nothing! Dan semoga ini tidak terjadi pada kehidupan Anda… semoga Anda selalu berlimpah kesehatan dan rejeki… aamiin…

(lebih…)

Iklan

Belajar kehidupan dari pohon pir dari masa ke masa… 15 Februari 2012

Posted by agfi68 in ikhlas, mindset, pendidikan.
Tags: , ,
add a comment

Suatu hari seorang ayah menyuruh anak2nya ke hutan melihat sebuah pohon pir di waktu yg berbeda. Anak pertama disuruhnya pergi pada musim DINGIN, anak ke 2 pada musim SEMI, anak ke 3 pada musim PANAS dan yg ke 4 pada musim GUGUR.

Anak pertama mendapati pohon pir itu tampak sangat jelek dan batangnya bengkok. Anak kedua mendapati pohon itu dipenuhi kuncup2 hijau yg menjanjikan. Anak ketiga mendapati pohon itu dipenuhi dgn bunga2 yg menebarkan bau yg harum. Anak keempat ia tdk setuju dgn saudaranya, ia berkata bhw pohon itu penuh dgn buah yg matang dan ranum.

Kemudian sang ayah berkata bhw kalian semua benar, hanya saja kalian melihat di waktu yg berbeda. Ayahnya berpesan: “Mulai sekarang jangan pernah menilai kehidupan hanya berdasarkan satu masa yg sulit.” Ketika kamu sedang mengalami masa2 sulit, segalanya terlihat tdk menjanjikan, banyak kegagalan dan kekecewaan, jangan cepat menyalahkan diri dan orang lain bahkan berkata bhw kamu tdk mampu, bodoh dan bernasib sial…

Ingatlah, kamu berharga di mata ALLAH, tdk ada istilah “nasib sial” bagi orang percaya! Kerjakan yg menjadi bagianmu dan percayalah ALLAH SWT akan mengerjakan bagian-Nya…

Jika kamu tdk bersabar ketika berada di musim dingin, maka kamu akan kehilangan musim semi dan musim panas yg menjanjikan harapan, dan kamu tdk akan menuai hasil di musim gugur. “Kegelapan malam tdk seterusnya bertahan, esok akan datang fajar yg mengusir kegelapan.”.

Selalu ada pengharapan yang baru.

Diary atau Catatan Motivasi (teman) Seorang Pramugari? Novel Khusus DEWASA! 8 Januari 2012

Posted by agfi68 in Buku, ikhlas, mindset, pendapatku.
Tags: , , , , ,
21 comments

Apakah Anda mengenal seorang motivator luar biasa Agung Webe? Alhamdulillah saya sempat berkenalan dan bersahabat dengan beliau hingga saat ini. Dan syukur alhamdulillah sempat membaca novel beliau “Diary Pramugari: Seks, Cinta dan Kehidupan” yang pernah dalam satu bulan dicetak ulang hingga 5 kali! Sungguh sebuah prestasi luar biasa dari seorang sahabat Agung Webe !

Novel ini merupakan hasil curahatan seorang pramugari, sebut saja namanya JINGGA, kepada Agung Webe (sebut saja AW). Yang kemudian dikemas dalam alur cerita yang bisa membuat emosi Anda naik turun, dan bahkan sejak awal, Agung Webe sudah mengajak kita berkhayal tentang aktivitas seksual… Sungguh novel yang hanya khusus untuk dewasa!

“Jingga,” bisik Anya di telingaku. “Nanti kalau kamu sudah merasakan seks, aku yakin kamu juga akan merasakan ketagihan dengan itu.”

Sebelum saya mengulas lebih lanjut, perlu saya kenalkan beberapa tokoh utama dalam novel ini: yang pertama adalah si pramugari itu sendiri, namanya JINGGA (samaran), kemudian ada sahabat Jingga, seorang penganut paham bahwa DOSA adalah jika suatu perbuatan merugikan orang laen, jadi berhubungan seks dengan pacar adalah perbuatan yang tidak berdosa, dan ia lakukan berkali-kali dengan pacarnya, namanya ANYA. Kemudian ada juga PURI , seorang maniak seks… Apa? Maniak seks? Oke jika Anda penasaran, silahkan ikuti dulu ulasan saya berikut ini…

“Jingga, bagiku dosa itu terjadi kalau aku berbuat yang merugikan orang lain. Merusak lingkungan atau sesuatu yang menyebabkan orang lain sengsaran” – penjelasan ANYA kepada JINGGA tentang dosa.

(lebih…)

Memberi ARTI dalam setiap Kejadian! 3 Juli 2010

Posted by agfi68 in DUIT, mindset.
Tags: , , ,
1 comment so far

Percaya atau tidak, kejadian yang kita hadapi sehari-hari, baik, buruk, menyenangkan, menyedihkan, kejutan dan seterusnya awalnya tidak ada artinya sama sekali. Kitalah yang memberikan arti pada setiap kejadian-kejadian tersebut sesuai dengan belief system, keyakinan atau paradigma yang sudah menyatu dengan diri kita. Hal inilah yang menyebabkan untuk setiap kejadian yang sama, respon antara satu orang dengan orang lainnya bisa berbeda.

Pernah suatu ketika, anak saya memberikan pernyataan pada saya, waktu itu seperti biasa saya (sebagai seorang ayah) sedang guyon-guyon, ternyata tanggapan anak saya “Jangan gitu yah… aku lagi sensi loch…”. Wow! kenapa bisa emosi mengendalikan kita? Sungguh kasihan… Kejadian ini tentu saja tidak membuat saya marah, karena disisi lain memberikan kesempatan kepada saya untuk memberikan pengarahan kepada anak saya agar kitalah yang mengendalikan emosi, bukan sebaliknya… Jika hal ini kita biarkan saja, tentu akan menggerogoti energi positif kita yang (kemungkinan) juga sudah hampir habis, he he he… bisa jadi minus loch!

Berhati-hatilah dan sekali lagi, Kitalah yang mengendalikan emosi, bukan sebaliknya.

Mengapa hal itu bisa terjadi? Mekanisme perilaku kita disebabkan karena otak selalu menanyakan 3 hal terhadap suatu kejadian:

  1. Saya mau perhatian gak terhadap hal tersebut?
    Tentunya tergantung dengan kejadian itu sendiri apakah berarti buat Anda, misalnya saat saya kehilangan kucing kesayangan saya, tentu sedih dibuatnya, namun tetangga saya biasa-biasa aja tuch, bahkan istri dan anak-anak saya juga gak ambil peduli. Saya-pun juga tidak berlarut-larut dalam kesedihan, karena nanti suatu ketika Tuhan pasti mengganti dengan kucing yang lebih baik (dan ternyata memang dalam waktu gak lama dapet kucing yang lebih keren). Ini hanya contoh saja dan juga hanya masalah kucing, bagaimana dengan kejadian yang mungkin lebih heboh daripada kucing? Ya sama saja! Misalnya, beberapa saat yang lalu salah satu sahabat saya kehilangan laptop dan sekaligus HP-nya, padahal HP juga belum lunas baru nyicil berapa bulan, tas-nya juga sekalian sama laptop dan paspor (karena sebentar lagi ada dinas ke luar negeri). Ya saya sich biasa-biasa saja, namun dia sempat kelabakan. Tentu saya juga bisa merasakan bagaimana laptop dan HP-nya hilang, ya saya memberikan dukungan dan doa semoga laptop dan HP-nya digantikan dengan produk lain yang lebih luar biasa. Bagaimana dengan Anda?
  2. Apa artinya hal tersebut bagi diri saya?
    Lantas kejadian tersebut jika memang menyita perhatian saya, apa artinya? Misalnya, O memang sudah saatnya saya ganti kucing yang baru dan lebih keren entah kapan. Atau barangkali, O mungkin karena kurang sedekah, so laptop dan HP jadi pindah tangan. O barangkali inilah cara Tuhan ingin membuat saya lebih sukses dan bahagia, atau barangkali Anda akan merespon dengan respon yang negatif atau sangat negatif? O memang sedang sial, memang nasibku begini, memang tidak mudah dan tidak setiap apa yang kita impikan terwujud. Mengapa aku dilahirkan seperti ini? Mengapa? Dan seterusnya… Ini semua tergantung dari PARADIGMA KEHIDUPAN Anda sendiri dan setiap orang masing-masing punya paradigma-nya sendiri-sendiri dan percaya atau tidak, kebanyakan kita lebih banyak memiliki PARADIGMA NEGATIF dibanding POSITIF…
  3. Lalu saya mo ngapain?
    Kalo sudah perhatian, kemudian artinya begini atau begitu, apa yang harus saya lakukan? Tentu bisa bermacam-macam mulai dari mengambil tindakan yaitu diam (tidak melakukan apa-apa juga merupakan tindakan), sampai harus melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan. O memang sudah nasib, ya sudah saya hentikan usaha ini. O memang gak mudah, gak usah aja dech, lainnya aja. Atau barangkali, o ini menunjukkan strategi yang saya gunakan ada yang gak beres, saya harus ganti strategi, ganti cara, keep learning – tetap belajar dan seterusnya. O barangkali saya tidak pernah sedekah, oke dech besok pagi saya akan nyumbang 1juta buat pondok pesantren deket rumah. Demikian seterusnya…

Intinya, apapun kejadiannya, apalagi di luar kontrol kita, kita tidak bisa merubah, namun kita bisa merubah respon terhadap kejadian tersebut, karena kita punya kontrol terhadap diri kita dan itu pasti!

Lain kali jika Anda menghadapi sebuah kejadian, terutama yang muncul pertama adalah hal-hal yang negatif, Anda bisa melakukan pengubahan haluan pikiran menjadi lebih positif dan berenergi, dengan memberikan 3 pertanyaan seperti di atas.

Saya bisa dan Andapun juga PASTI BISA! Yess!

Mengatasi dan Menyelesaikan Masalah! 9 Juni 2010

Posted by agfi68 in ikhlas, mindset, pendapatku.
Tags: , , , ,
3 comments

Pagi ini seperti biasa, terbangun dengan secercah harapan menyambut hari dengan kebahagiaan, bukankah kebahagiaan itu adalah pilihan? Walaupun berbagai masalah sedang menghadang…

Sahabat…

Masalah hidup yang dihadapi setiap orang tentulah berbeda. Bahkan sesuatu yang dianggap masalah oleh seseorang belum tentu menjadi masalah bagi orang lain. Hal ini tergantung dari cara pandang (dan sekaligus keyakinan atau paradigma/cara pandang) orang bersangkutan melihat apa yang dialaminya.

Ada sebuah cerita menarik yang pernah saya ingat. Ada seorang pemuda yang sedang masygul diberi nasihat oleh seorang kakek berdasarkan perumpamaan sehari-hari. Si anak muda diminta untuk mengambil segelas air dan ke dalam air itu dimasukkan dua genggam garam. Lalu si pemuda tersebut diminta mencicipinya. Sudah tentu air itu akan terasa sangat asin. Kemudian si kakek mengajak pemuda itu ke danau dan meminta air garam itu dimasukkan ke danau. Kemudian si kakek meminta si anak mencicipi air danau. Rasa asin itu sudah hilang.

Masalah hidup ini pun sama seperti segenggam garam tadi. Rasa asin itu bisa berupa kesulitan, penderitaan yang dialami kita, atau masalah hidup lainnya. Nah, seberapa besar rasa asin itu dirasakan oleh kita sebagai penderitaan semuanya tergantung dari kebesaran hati dan keikhlasan kita. Jika hati kita hanya sebesar gelas, rasa asin akan terasa. Bila hati kita seluas danau atau bahkan seluas samudera tentunya kita hanya akan merasakan air yang tawar.

Maka selayaknya kita terus belajar dan memperluas wawasan kebijaksanaan kita, agar masalah yang datang bukan lagi dipandang sebagai penderitaan, tetapi bagian dari kehidupan yang memang harus kita jalani.

Semoga bermanfaat, amin!