jump to navigation

Cukup sudah menyakiti diri! 5 Maret 2020

Posted by agfi68 in hikmah, mindset.
Tags: , , , ,
trackback

Kawan, coba kita perhatikan quote dari Gus Candra Malik, “Tak perlu orang lain menyakiti hati ini. Kita melakukan sendiri berulangkali setiap hari”.
Nah kan…!

Jangan-jangan memang demikian adanya? Jangan-jangan tiada siapapun di dunia ini yang menyakiti hati kita kecuali diri kita sendiri? Kok Bisa? Ya bisa saja, karena seringkali kita menggunakan ‘asumsi’, ‘anggapan’ dan seterusnya, yang tentu saja belum benar kenyataan-nya.

Seringkali kita terjebak dengan situasi yang tidak mengenakkan hati, bisa jadi sebuah rasa yang tidak begitu nyaman. Coba ucapkan kata-kata berikut: cemburu, patah hati, tertipu, tersesat, dikhianati… Bagaimana? tidak nyaman kan? Atau, jangan-jangan kita jusru nyaman dalam ketidak-nyamanan tersebut? Nah loh…

Perasaan-perasaan tersebut muncul karena suatu sebab dan penyebab-nya adalah karena diri ini merasa … dengan tanda titik2 diisi dengan kata-kata yang telah disebutkan tadi. Dan bisa jadi itu hanya perasaan kita saja, bukan kondisi sesungguhnya, bukan realita sebenarnya! Inilah yang akhirnya menjebak diri kita pada suatu perasaan yang tidak nyaman. Oke, saya beri contoh, yang mungkin atau bisa jadi memang pernah kita alami…

Contoh: Beberapa saat setelah mengirimkan pesan WA kepada orang spesial dalam hidup kita, pesan telah sampai namun belum dibaca, online terakhir beberapa menit yang lalu setelah kita mengirimkan pesan. Well ini belum menjadi pemicu… Next, kita tengok WA, pesan belum juga dibaca apalagi di respon, tapi sempat online jam 10:58, padahal pesan kita terkirim sejak jam 10.30, nah ini bisa menjadi pemicu asumsi-asumsi, hmmm kok aku dicuekin, kok aku diabaikan, boss marah kepadaku ya? dst… Iya kan? Kok bisa seperti itu? Karena, sekali lagi, yang dikirim WA adalah orang-orang spesial, saudara kita sendiri, kekasih kita (istri, suami, dst), bisa jadi boss kita dan seterusnya. Beda situasinya jika yang dikirimi WA tersebut tidak spesial, tidak khusus, it doesnt really matter kan?

Padahal bisa jadi asumsi-asumsi kita itu keliru semuanya, boss ternyata sedang sibuk, sedang mencoba melihat WA tanpa merespon dulu (ntar aja gitu katanya) atau istri/suami sedang ada hal penting yang mengharuskan melihat WA tanpa merespon siapapun karena cek lokasi tempat meeting pekerjaan begitu seterusnya, banyak hal yang bisa terjadi di luar apa yang kita ketahui. Tapi karena sudah berasumsi yang enggak-enggak, jadilah muncul rasa khawatir, sedih, dst…

Nah, kalo sudah seperti itu, apa yang sebaiknya kita lakukan? Ya percaya saja lah, nanti kan (Insya Allah) akan terjawab eh dijawab pada waktunya, santai saja, kecuali WA Anda itu sangat urgen, kenapa tidak make a call saja? Namanya aja juga darurat, iya kan?

Tapi, bisa jadi asumsi-asumsi Anda itu ada benarnya loh, barangkali memang Anda sedang dimarahin yang bersangkutan, sedang dicuekin yang bersangkutan dan seterusnya. Kalo sudah seperti ini, langsung saja introspeksi diri dulu, mengapa dia marah padaku, mengapa dia cuek padaku, mengapa dia khianati aku, dst. Gitu aja dulu, supaya kita juga bisa lebih tenang menghadapi segala situasi, Insya Alah…

Mau contoh cerita lainnya, simak saja kisah Benalu si Pemalu disini.

Semoga bermanfaat…

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: