jump to navigation

Kebahagiaan Semu, Kenyamanan Semu! 26 November 2019

Posted by agfi68 in hikmah, mindset.
Tags: , , , ,
trackback

“Wah bahagia sekali pasangan itu, sangat serasi… wow!”

“Wah nyaman sekali dia dengan pekerjaan dia sekarang… alhamdulillah”

“Wah kamu sekarang sudah nyaman dan bahagia ya..?”

udah seringkali ucapan-ucapan itu saya dengar, bahkan saya sendiri juga Anda sering mengucapkan hal tersebut untuk sahabat-sahabat yang sedang (nampak) bahagia.

Bagi saya, itu bukan sekedar ucapan, tapi saya lebih suka dengan istilah doa/ Ya! Tepat sekali ucapan doa dari saya untuk sahabat-sahabat saya tersebut, tak lupa juga bersyukur alhamdulillahi robbil’alamiin…

Yang nampaknya bahagia, nyaman, ternyata tak berlangsung lama. Kejadian berikutnya membawa sang pelaku kebahagiaan tesebut tiba-tiba saja terpuruk. Nampaknya sukses ternyata tidak sama sekali, ya tentu saja tidak semuanya begitu, namun yang membuat saya penasaran, mengapa hal itu bisa terjadi? Ternyata… dan ternyata…

Ternyata yang dialami adalah kebahagiaan semu, kesuksesan semu, kenyamanan palsu. Mengapa demikian? Itu artinya juga kebahagiaan palsu, bukan kebahagiaan sejati, kebahagiaan yang sesungguhnya, kebahagiaan yang tampil di luar juga dirasakan di dalam. Loh bisa to seperti itu? Oya sangat bisa, orang jawa bilang urip kuwi wang sinawang, bisa jadi apa yang kita lihat dari luar tidak sama dengan apa yang terjadi di dalam.

Suatu ketika ada salah satu mahasiswa saya mengeluh mengapa dia diperlakukan buruk oleh pacarnya, padahal saya perhatikan (waktu itu) mereka baik-baik dan nyaman-nyaman saja (nampak luar). Oh ternyata itulah yang sesungguhnya terjadi. Kadangkala atau seringkali kita jumpai orang-orang di sekitar kita selalu saja menjawab “aku baik-baik saja” ketika ditanya kabarnya, padahal ya belum tentu. Hmm apakah tidak boleh menjawab seperti itu ya? Ooo sebentar, kita tidak sedang membicarakan tentang kalimat jawaban tersebut, kita sedang membicarakan tentang perlunya harmonisasi antara apa yang diucapkan dengan kenyataan atau lebih tepatnya feel-nya.

Sepertinya, nampaknya bahagia, namun ternyata yang bersangkutan menyimpan begitu dalam kepedihan, sehingga dalam waktu singkat yang bersangkutan akhirnya terpuruk. Suatu ketika ada yang mendapatkan keberuntungan, kemudian dalam waktu singkat yang bersangkutan akhirnya terpuruk jatuh miskin seperti semula.

Ya begitulah cara kerja LoA atau Low of Attraction – hukum semesta – bekerja, tidak peduli Anda percaya atau tidak sama sekali, seperti hukum gravitasi, percaya atau tidak, tetap bekerja sebagaimana adanya.

Makanya, perlu adanya harmonisasi antara apa yang diucapkan dengan kenyataan atau lebih tepatnya feel-nya, seperti yang sudah saya ungkap/tuliskan di awal. Kalo luarnya bahagia ya usahakan dalamnya juga ikut merasakan kebahagiaan. Jika mindset nya adalah ‘miskin’ ya begitu seterusnya, walau pernah dapet keberuntungan uang berlimpah, namun akan kembali miskin lagi. Demikian seterusnya.

Intinya kita menarik dalam kehidupan kita tentang apa yang sedang dan dominan kita rasakan saat ini. Saya sangat menyukai filosofi Ki Ageng Suryomentaram tentang menikmati kekinian, menikmati saat ini, “saiki neng kene koyo ngene aku gelem“. Sekarang, disini seperti ini aku menikmatinya, kalo senang ya biasa saja, toh nanti bisa sedih. Demikian juga kalo sedih ya biasa saja, nanti toh bisa senang. Semua dihadapi dengan biasa-biasa saja, sinkronkan hati, sinkronkan pikiran, sinkronkan tindakan dan ucapan.

Oya… di lain kesempatan ada mahasiswa saya pernah berkata (1) “pak ini sepertinya sulit dilakukan, tapi Insya Allah tetap masih bisa saya lakukan dan saya akan berusaha untuk itu”, ada yang berkata (2) “pak, ini itu bisa saja dilakukan tapi, sepertinya sulit untuk dilakukan”. Kira-kira enak didengerin yang (1) atau (2), mana yang masih terasa ada feel optimisme nya?

Ketika seorang mahasiswa nampaknya selalu sumringah (senyum ceria) saat proses pengerjaan tugas akhir, ternyata tiba-tiba saja datang ke saya dengan segepok permasalahan non teknis yang tidak terkait dengan tugas akhirnya…

Ketika seseorang berkata “aku baik-baik saja”, doakan saja bahwa dia memang benar-benar sedang baik-baik saja, sedang sehat-sehat saja. Walau bisa saja kita lihat raut muka nya mungkin gak matching dengan apa yang dia katakan, tetap doakan saja…

Ya begitulah perjalanan kehidupan kita… Kalo memang begitu yang terjadi, antara ucapan dan perasaan nggak match, ya biarkan saja terjadi, bodo amat! Paling tidak kita sudah (mau) belajar dari hal yang demikian, apakah kita teruskan saja kebiasaan ini? Ya terserah Anda, karena barangkali dengan menipu diri sendiri seperti itu sangat begitu nyaman untuk Anda, silahkan saja… Hehehe.. peace…!

Terima kasih dan semoga bermanfaat…

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: