jump to navigation

Nrimo ing Pandum… 5 Desember 2017

Posted by agfi68 in ikhlas, mindset.
Tags: , , ,
trackback

Weladalah!

Ada apa ini, setelah sekian lama absen nulis blog, tiba-tiba saja saya bikin judul seperti ini? Apa maksud dari “Nrimo ing Pandum”, bukankah itu salah satu falsafah Jawa? “Nrimo ing Pandum” kalau dibahasa-Indonesia-kan secara bebas menjadi “Menerima Segala Pemberian” dalam segala perjalanan kehidupan…

Untuk nglakoni falsafah Jawa ini ternyata tidak semudah mengucapkan… cukup berat… bahkan sangat berat… saya belajar melakukan-nya bukan sehari semalam, bukan sehari dua hari, bukan seminggu dua minggu, bukan sebulan dua bulan… namun bertahun-tahun… dan itu semua tidak mudah dilakukan, tapi tetap harus saya jalani…

Mengapa harus saya jalani falsafah ini… ya jujur saja… sudah seringkali saya mengalami, misalnya, uang tabungan bisa seperti roller coster… naik seperti roket… dan kemudian menurun dengan drastis… begitulah seterusnya… permasalahan muncul silih berganti.. satu selesai… muncul berikutnya… begitulah seterusnya… hal ini membuat saya banyak mengikuti segala macam petunjuk2 dari buku (hahaha harusnya dari Quran dan Sunnah ya), mengikuti kegiatan seminar terkait, mempraktekkan yang diajarkan dan seterusnya… ya memang ada perubahan… namun tidak terlalu signifikan… dan itu membuat saya menjadi kelelahan dan tidak sepenuhnya menikmati perjalanan kehidupan yang seharusnya indah ini…

Benar! Perjalanan kehidupan ini menjadi terasa berat dan makin berat… Yang pada akhirnya mengharuskan saya untuk menjalani falsafah “nrimo ing pandum” ini… agar perjalanan ini nikmat untuk dijalani… apalagi akan begitu banyak pelajaran yang Insya Allah bisa membuat kita semakin menjadi orang yang bijak… ya kalo bisa mengambil hikmah atau pelajaran dari perjalanan ini…

Jadi intinya, bukan sekedar bermain dalam ranah pikiran sadar atau bawah sadar, dalam ranah vibrasi pikiran dan kehidupan dan seterusnya, namun lebih ke arah menerima segala sesuatu yang memang sudah dalam skenario-Nya… Menerima segala pemberian, entah itu adanya masalah, rejeki dst… nah dalam Islam, falsafah “Nrimo ing pandum” itu setara dengan “Qana’ah”…

Coba saja perhatikan bagaimana hati kita, perasaan kita dengan melihat atau membaca status keberlimpahan orang lain, entah di facebook, twitter dan lain sebagainya? Apakah merasakan syukur juga? Atau malah merasa tidak nyaman? Merasa tidak senang? Nah saya dulu belajar dari hal-hal yang sederhana seperti itu… bisa kah kita merasakan apa yang dirasakan keberlimpahan orang lain? Atau malah sebaliknya? Sudahkah kita atensi pada rasa syukur keberlimpahan bukan sebaliknya…

Jika saldo tabungan tinggal 100ribu, bagaimana rasanya?

  • Hmmm biasa saja…?
  • Hmmm alhamdulillah masih ada 100ribu…
  • Waduch kok tinggal 100ribu??

Jika permasalahan silih berganti datangnya?

  • Hmmm biasa saja…
  • Hmmm alhamdulillah, Insya Allah makin pinter…
  • Ya ampun kok begini nasibku…

Baiklah, kita perhatikan saja hadits Nabi SAW terkait dengan Nrimo ing Pandum ini…

Qana’ah ini akan membuat kita menjadi manusia yang beruntung, bagaimana tidak? Kita perhatikan saja hadits Nabi SAW berikut ini…

Dari ’Abdullah bin ’Amr bin Al ’Ash radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh beruntung orang yang diberi petunjuk dalam Islam, diberi rizki yang cukup, dan qana’ah (merasa cukup) dengan rizki tersebut.” (HR. Ibnu Majah, no. 4138. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Selain itu, sikap qana’ah akan menjadikan kita manusia yang penuh syukur…

Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, “Lihatlah pada orang yang berada di bawah kalian dan janganlah perhatikan orang yang berada di atas kalian. Lebih pantas engkau berakhlak seperti itu sehingga engkau tidak meremahkan nikmat yang telah Allah anugerahkan -kata Abu Mu’awiyah- padamu.” (HR. Ibnu Majah, no. 4138, shahih kata Syaikh Al-Albani).

Esensinya juga qana’ah juga berarti telah mendapatkan kekayaan yang hakiki…

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, “Yang namanya kaya bukanlah dengan memiliki banyak harta, akan tetapi yang namanya kaya adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari, no. 6446; Muslim, no. 1051; Tirmidzi, no. 2373; Ibnu Majah, no. 4137).

Karena Qana’ah juga berarti telah ‘memiliki’ dunia seisinya…

Dari ’Ubaidillah bin  Mihshan  Al Anshary dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Barangsiapa di antara kalian mendapatkan rasa aman di rumahnya (pada diri, keluarga dan masyarakatnya), diberikan kesehatan badan, dan memiliki makanan pokok pada hari itu di rumahnya, maka seakan-akan dunia telah terkumpul pada dirinya.” (HR. Tirmidzi, no. 2346; Ibnu Majah, no. 4141. Abu ’Isa mengatakan bahwa hadits ini hasan ghorib).

Seringkali kita tidak menyadari segala keberlimpahan yang telah diberikan kepada kita dari segala arah, karena kita terlalu fokus dengan masalah-masalah kehidupan, terlalu fokus dengan kegalauan dan seterusnya…

Demikianlah adanya… Semoga membawa manfaat…

Komentar»

1. Afiyati - 8 April 2020

Terima kasih ilmunya Pak Agfi.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: