jump to navigation

Bagaimana menjadi apa yang diinginkan… 21 April 2013

Posted by agfi68 in DUIT, ikhlas, mindset.
trackback

Artikel ini saya awali dengan sebuah kutipan yang cukup populer dari Napoleon Hill…

Anda bisa menjadi apapun yang Anda inginkan, jika saja keyakinan Anda cukup besar dan tindakan Anda selaras dengan keyakinan Anda. Sebab apapun yang bisa diciptakan dan diyakini pikiran, bisa dibuat menjadi kenyataan.”

Wow, apakah memang benar seperti itu? Ya, itu pertanyaan yang juga pernah saya pikirkan saat membaca kutipan dari Napoleon Hill tersebut. Awalnya saya mengalami kesulitan dalam memahami… maksudnya gimana to? Kok cuman begitu doank bisa mewujudkan apa pun, sekali lagi apapun yang kita ingin menjadi…

Saya mencoba untuk introspeksi atau muhasabah, memikirkan kembali perjalan hidup saya hingga saya menjadi seperti saya saat ini (sebagai dosen, penulis buku dan pembicara publik).

Pada saat saya masih awal kuliah di sekitar tahun 1986 saya pernah punya impian bekerja di sebuah perusahaan komputer internasional yang terkenal saat itu (IBM), saya bisa bayangkan begitu menyenangkan bekerja sesuai dengan apa yang disukai dan digaji. Hal ini berlangsung selama sekitar 2 tahunan kuliah, yang kemudian dari berbagai macam peristiwa, pergaulan, diskusi dan lain sebagainya, saya berubah pikiran untuk tidak bekerja di perusahaan, saya ingin mengabdikan diri menjadi pengajar alias dosen.

Mengapa….?

Alasannya sangat sederhana, saya ingin bekerja sesuai dengan apa yang saya sukai dengan bebas tanpa ikatan waktu dan juga dibayar, bahkan untuk bagian yang terakhir itu, belum terpikirkan secara serius. Apa yang ada dalam benak saya saat itu adalah sebuah passion atau gairah hidup ingin mengajar (juga melakukan apa saja terkait dengan konsep berbagi ilmu), itu saja! Persoalan pendapatan itu nomor sekian… yach begitulah apa adanya…

Dan waktupun bergulir sehingga saya lulus, dan waktu itu saya juga sudah bekerja sebagai tenaga pengajar lepas privat dan juga pada suatu lembaga pendidikan komputer di Yogyakarta baik sebagai pengajar maupun sebagai staf manajemen. Ini merupakan pengalaman yang tak terlupakan, karena banyak memberikan saya batu pijakan untuk karir saya di kemudian hari…

Apapun yang kita alami dalam kehidupan, sebaik atau seburuk apapun, Insya Allah, akan memberikan hikmah kepada kita, baik cepat maupun lambat, baik untuk diri sendiri maupun orang lain – Agfianto Eko Putra

Waktu itupun saya juga belum tahu tentang pengembangan diri sebagaimana kutipan Napoleon Hill di awal tulisan, apalagi The Law of Attraction, The Law of Vibration dan lain sebagainya… Namun Hukum Tuhan Yang Maha Kuasa pastilah berlaku, dan menurut saya, hukum2-Nya sudah running well tanpa perlu dioperasikan secara manual oleh-Nya…

Jika kemudian setelah sekian puluh tahun (tahun 1986 hingga tulisan ini saya buat di tahun 2013) saya dalam kondisi sekarang dan kemudian menuliskan artikel ini bukanlah tanpa sebab dan terjadi dengan sendirinya. Kehidupan ini adalah efek dari keputusan maupun perbuatan maupun sikap dst yang telah kita lakukan di masa lalu…

Saya akhirnya menyadari bahwa kondisi saya saat ini memang bener-bener apa yang saya yakini dan saya sikapi selama puluhan tahun belakangan ini. Misalnya, jika kemudian pada tanggal 17 Maret 2013 saya resmi dilantik menjadi anggota ORARI dengan callsign YD2XPW, itu juga bukan merupakan keputusan yang saya ambil baru-baru saja, namun sejak alm ayahanda saya menolak membelikan pemancar, yang akhirnya saya harus membuat sendiri, dan sempat mengantar saya ke sekretariat ORARI pada tahun 1983-an.

Demikian juga saat saya bisa melengkapi laboratorium pribadi dengan beberapa peralatan yang cukup lengkap hingga saat ini, itu merupakan keputusan saya sekian tahun yang lalu (tepatnya saya sudah lupa), dimana saat itu saya punya keyakinan (walau belum 100%) bisa membuat sebuah lab pribadi lengkap dengan peralatan yang dibutuhkan, yang kemudian keinginan tersebut berjalan seiring dengan waktu dan ‘terlupakn’ akhirnya pelan2 terwujud hingga sekarang…

Yang saya ingat adalah sikap atau perilaku sudah mencerminkan memiliki lab pribadi tersebut walau masih dengan alat2 yang terbatas…

alhamdulillahirobbil’alamiin…

Demikian juga dengan anak saya yang akhirnya bisa diterima tanpa tes di UGM sesuai dengan jurusan yang dia inginkan, saya sebagai orang tuanya berusaha membentuk sikap dan perilaku-nya sejak kelas 1 SMA…

Demikian juga dengan saat-saat saya dan istri saya kelimpungan mencarikan sekolah anak saya, hal itu karena kami selalu khawatir dengan prestasi dan masa depan sekolah anak-anak saya, dan tanpa disadari akan menimbulkan sikap atau perilaku kami selaku orang tua terhadap anak yang sesuai mengikuti kekhawatiran tersebut! Dan itu sangat merugikan dan sama sekali tidak mendidik!

Oke…

Jika selama ini konsep pengembangan diri model Napoleon Hill atau yang sejenisnya terasa kering atau terasa ada yang kurang, itu semata-mata karena kita lupa untuk sebaiknya selalu melibatkan Allah sejak awal, pada saat proses maupun setelah proses. Artinya selalu melibatkan Allah sejak awal hingga akhir… kalo pinjem istilah Yusuf Mansur: Allah dulu, Allah lagi, Allah teruss…

Jika kemudian kita mengalami hal-hal yang buruk, apa yang seharusnya kita lakukan adalah instropeksi ke dalam, apakah ini memang akibat dari apa yang kita lakukan di masa lalu (hukum vibrasi) atau memang begitulah seharusnya proses kehidupan yang harus kita jalani, bukankah barangkali kita sedang meminta kesabaran saat itu? Atau memang Dia ingin kita naek level…

Jika kemudian kita mengalami hal-hal yang baik sekalipun, maka apa yang saya kemukakan sebelumnya juga berlaku… Jangan-jangan rejeki berlimpah untuk menguji apakah kita masih tetap bersyukur atau justru sebaliknya… dan seterusnya…

Apa yang disampaikan Napoleon Hill memang seperti itu dalam kehidupan, namun ingatlah bahwa Allah-lah yang menerapkan hukum-hukun-Nya yang sudah running well sejak alam diciptakan-Nya…

Selalu melibatkan Allah…. Apapun, kapanpun, dimanapun….

Komentar»

1. dessy wahyuningrum - 23 April 2013

superr…ulasan yang cerdas dan menyentuh….saya bangga pernah mengenal bapak secara langsung n pnah jadi mahasiswa bimbingan bapak………..achh saat itu bapak masih dosen muda dengan sepeda motor butut,,,,hehe

2. lilie - 21 September 2013

sya jdi trnfsi untk mwjdkn impian sya
stlh sya bca crta bpak


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: