jump to navigation

Ujung-ujungnya Mencari Nikmat, Menghindari Sengsara… 18 Januari 2011

Posted by agfi68 in DUIT, ikhlas, mindset.
Tags: , , , , ,
trackback

Intinya sama saja, manusia, pada dasarnya, berusaha untuk selalu mencari nikmat, menghindari sengsara. Kalau bisa dapet nikmat tanpa harus sengsara, artinya bagaimana carnya bisa mewujudkan impian tanpa harus bekerja keras, bahkan kalo perlu gak pake kerja…

bersyukur-mengikat-nikmat

Wah, kok sebegitu enaknya ya? Apakah mungkin? Mungkin! Cuman probablitasnya sangat kecil, rata-rata orang sukses juga melakukan usaha-usaha, kerja cerdas, kerja keras untuk mewujudkan impian-impian mereka.

Mengapa mereka bisa sukses seperti itu? Ya kembali pada pernyataan yang saya tulis di awal artikel ini, misalnya, apakah Anda berani berjalan di sebuah papan dengan lebar kurang dari 50cm yang diletakkan di antara dua gedung dengan ketinggian lebih dari 1000m? Coba bayangkan, ih mengerikan, apalagi hembusan anginnya cukup kencang…

Coba bayangkan! Wah nyerah aja dech… juga buat apa sich kok kayak kurang kerjaan aja…

Okey, bagaimana kalu di ujung satunya silahkan diambil uang 10ribu? Bagaimana? Kurang? Kalau 100ribu? 500ribu? 10juta? 500juta? 1milyar? 10milyar… Masihkah Anda menahan diri untuk tidak mengambilnya? Apa yang harus dilakukan sangat jelas, silahkan menyeberang melalui papan tersebut, ingat papan tersebut berada di ketinggian kurang lebih 1000m atau 1km di atas permukaan tanah. Bagaimana? Mungkin sebagian dari Anda mau menerima tantangan tersebut dan sebagian lainnya sama sekali tidak mau, karena resiko-nya jelas… jatuh dan tewas mengenaskan!

Okey, sekarang bagaimana kalau yang diujung sana adalah orang-orang yang Anda kasihi, orang-orang yang dekat sekali dan sayang sekali dengan Anda, demikian juga dengan Anda, dan mereka sedang ditodong pistol, jika Anda tidak mau menyeberang melalui papan tersebut, nyawa mereka jadi taruhannya? Bagaimana? Masih juga Anda tidak mau menerima tantangan ini? Ooo dasar gila! Ha ha ha… bercanda, don’t take it seriously!

Intinya apa sich… Inilah cara saya menjelaskan tentang tingkatan seseorang yang harus dilampaui untuk (harus) melakukan sesuatu, tetap pada kenyataan bahwa kita cenderung menghindari sengsara dan mencari nikmat. Pada batas-batas tertentu, kita akhirnya harus melakukan sesuatu, karena (mungkin) nikmatnya jauh lebih besar dari sengsara yang akan diperoleh atau kita tidak mau melakukan sesuatu karena (mungkin) sengsaranya lebih besar daripada nikmat yang akan diperoleh. Sangat sederhana sekali…

Inilah yang bisa memotivasi diri kita secara otomatis dan ini salah satu prinsip untuk mendapatkan solusi permasalahan kehidupan. Sadarkah kita bahwa solusi permasalahan hidup kita tepat sudah ada di depan hidung kita, tinggal kita mau menggunakannya, melakukannya atau tidak, prinsip ini tetap berlaku. Awalnya hidup dengan permasalahan sungguh sama sekali tidak nyaman dan tidak mengasikkan, namun seiring dengan waktu, tawaran-tawaran solusi yang silih berganti lalu-lalang dihadapan kita dibiarkan begitu saja, karena terasa sangat beresiko dibandingkan dengan permasalahan yang dihadapi, atau permasalahan yang dihadapi lebih ‘nyaman’ dibandingkan harus melakukan seuatu yang (bisa jadi) mengakibatkan menjadi tidak nyaman lagi. Jadi jangan heran kalau ada orang (atau barangkali kita sendiri) yang berkeluh kesah dengan kondisi kehidupan saat ini, namun sama sekali tidak ada daya upaya atau ikhtiar untuk merubahnya, karena disadari atau tidak, kondisi tersebut terasa ‘nyaman’. Ngaku aja dech…

Ada juga seorang agen asuransi yang diolok-olok, bahkan, oleh orang-orang dekat dengan mereka, termasuk juga temen-temennya sendiri. Sungguh tidak nyaman kondisi seperti ini. Di sisi lain perusahaan asuransi tempat dia menjadi agen menawarkan bonus prestasi ke luar negeri, sebuah impian dia selama ini.. Akhirnya dengan semangat kerja keras dan kerja cerdas, dia bisa berhasil sukses menjadi agen yang prestasinya luar biasa, mendapatkan income keuangan yang luar biasa besar plus bonus jalan-jalan ke luar negeri dengan gratis. Motivasi beliau sangatlah sederhana, membayangkan bagaimana sengsaranya dia jika tidak bisa berhasil jadi agen asuransi yang sukses dan membayangkan bagaimana nikmat-nya jalan-jalan ke luar negeri secara gratis… Alhamdulilah beliau adalah pasangan hidup saya sendiri…

Intinya tetap sama, ujung-ujungnya manusia itu berusaha mencari nikmat dan berusaha untuk menghindari sengsara sesuai dengan paradigma, pandangan hidup mereka masing-masing, believe it or not!

Bagaimana? Jadi menyeberang di papan tersebut? Pilihan itu ada di tangan Anda, jangan salahkan akibatnya di masa depan, terima kasih…

Komentar»

1. Aicha Suhaemin - 15 September 2011

Jadi berfikir tentang “kekeliruan2” yg telah Echa lakukan.
Step by step tiap usaha yg Echa kerjakan selalu terhantuk kegagalan dg kesalahan yang sama.
Tidak bisa menempatkan prioritas mana yg perlu diutamakan.
Thank’s Pak Afg!
Artikel ini cukup membuka minda sy.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: