jump to navigation

Belajar Kehidupan dari Mahapatih Gadjahmada yang Muslim (?) 3 Januari 2011

Posted by agfi68 in mindset.
Tags: , , , , , ,
trackback

Pernah kubertanya, mengapa kampusku diberi nama Universitas Gadjah Mada, sementara itu (sampai artikel ini kutulis) belum ketemukan minimal filosofi kehidupan Gadjahmada (biografik klik disini, novel-nya disini), baik di website UGM, maupun di leaflet-leaflet-nya.

patung gajah madaAkhirnya kutemukan filosofi kehidupan Mahapatih Gadjamada di dalam buku yang ditulis oleh sahabatku sendiri mas Herman Sinung Janutama dalam bukunya “Kesultanan Majapahit: Fakta Sejarah yang Tersembunyi” yang ditebitkan oleh LHK PDM Yogyakarta. Tulisan ini tidak sekedar mencuplik apa yang ditulis beliau, namun saya coba untuk mennguraikan sebatas kemampuan yang saya miliki, dengan tujuan agar kita bisa belajar dan mengambil hikmah positif dari pelajaran-pelajaran di masa lalu.

Ok, jika kita mendengar Gadjahmada, maka apa yang ada dalam pikiran kita adalah Sumpah Amukti Palapa:

“Saya tidak akan merasakan Palapa sebelum Nuswantara seperti Seram, Tanjungpura, Haru, Pahang, Dompo, Sunda, Bali, Palembang, Tumasik (Singapura) masuk dalam wilayah Majapahit” (Janutama, 2010)

Adapun filosofi dari Gadjahmada ada 3 (tiga) yang utama, jarang sekali kita ketahui. Apa saja? Sapta Dharma Gadjahmada, Catur Dharmaning Nerpati dan Dharmaning Pandawa Lima.

Sapta Dharma Gadjahmada

Seorang kestariya suci hendaknya memiliki 6 (enam) sifat, yaitu:

  1. Abhikamika, seorang kstaria suci pengemban praja hendaknya zahid, berkepribadian gung, luhur, berakhlak mulia, rendah hati dan membela kepentingan kawulo alit.
  2. Prajna, seorang kstaria suci pengemban praja hendaknya bijaksana sehinga menjadi suri teladan yang baik bagi kawulo alit.
  3. Usaha, seorang kstaria suci pengemban praja harus tulus ikhlas, lillahi ta’ala dalam berupaya.
  4. Atma Sampat, seorang kstaria suci pengemban praja harus seorang insan kamil.
  5. Sakya Samanta, seorang kstaria suci pengemban praja harus memiliki pandangan yang bersih dan suci, mampu menyelami hakekat hidup dan kehidupan.
  6. Aksudra Parisakta, seorang kstaria suci pengemban praja harus bertingkah laku seprti orang biasa, sederhana, apa adanya, lugu, tidak sombong, tidak neko-neko, tidak tinggi hati, tidak merasa sebagai orang hebat atau megalomania.

Catur Dharmaning Nerpati

Tentara Nagari Majapahi adalah pengembang amanah Allah Ta’ala, sehingga harus memiliki sikap:

  1. Jana Wisesa Suda, menjadi manusia yang tidak bernafsu angkara terhadap gemerlapnya segala pangkat dan kuasa.
  2. Kaprahitaning Praja, pemerintahan menjadi pembimbing, pendidik dan guru bagi kawulonya.
  3. Kawiryan, berani karena berpegang teguh kepada kesucian, keluhuran dan kebenaran.
  4. Kawibawan, kemulian budi pekerti dan akhlak mulia.

Dharmaning Pandawa Lima

  1. Ngesti Aji, hidup secara keramat dengan terus menerus mendekatkan diri kepada Yang Maha Pencipta, seperti Puntadewa atau Samiaji.
  2. Ngesti Giri, hidup mengutamakan keluhuran budi, seperti Arya Wrekudara.
  3. Ngesti Jaya, hidup membela tanah air menuju kemenangan, sebegaimana Janaka atau Raden Permadi.
  4. Ngesti Nangga, hidup dengan pribadi yang menjunjung tinggi keluhuran dan kebenaran, seperti Raden Nakula.
  5. Ngesti Priyambada, berbicara dengan hati nurani, lembut dan nyaman bagi yang mendengarkan, sebagaimana Sahadewa.

Gadjahmada seorang muslim?

Ada wacana bahwa Gadjahmada adalah seorang muslim. Menurut Janutama, bahwa Gadjahmada berasal dari Gadjah + Ahmad = gadjAHmada, hal ini tentunya menguatkan dugaan bawah Mahapatih Gadjahmada adalah seorang muslim (berbeda dengan tulisan-tulisan dalam pendidikan sejarah selama ini).

Maturnuwun dan semoga bermanfaat.

Daftar Pustaka

  • Janutama, H.S. 2010, Kesultanan Majapahit: Fakta Sejarah yang Tersembunyi, LHKP PDM – Yogyakarta

Komentar»

1. chiell - 22 Februari 2011

Eh..eh..
Saya pernah nemu, Pak. Di buku Filosofi UGM, karya seorang dosen Filsafat. Trus, saya tulis lagi di sini.

http://chiell.wordpress.com/2009/01/09/asal-usul-nama-universitas-gadjah-mada/

2. Kusni - 22 Februari 2011

ah yang benar.. Majapahit itu kerajaan Hindu.. dan sebagian besar wilayah nusantara (dan bahkan wilayah yang kini menjadi negara tetangga Indonesia) merupakan kawasan kerajaan Majapahit.. Apalagi tanah Jawa, sebagian besar dahulunya adalah penganut Hindu.. dan raja2 di kerajaan tanah jawa merupakan raja penganut Hindu yang sangat taat dan memiliki tingkat spiritual yang sangat tinggi..
hingga akhirnya masuk budaya arab dan misionaris mulai menyisipkan kepercayaan baru didalam kehidupan sosial masyarakat.. tapi itu jauh setelah era tsb dan tidak pernah ada fakta bahwa Gajah Mada penganut islam..
Sejarah lain, yaitu “tragedi” masuknya Prabu Brawijaya menganut kepercayaan arab sehingga memunculkan “kutukan” dari “pengasuh” dan “pembimbing spiritual” Prabu Brawijaya.. sejarah ini dapat anda cari tahu sendiri.. Ini ada bukti sejarahnya berupa Lontar berisi percakapan antara Prabu Brawijaya dan “pengasuh serta pembimbing spiritual” Beliau, termasuk “kutukan” tsb. Selain bukti sejarah juga bukti “nyata” dari “kutukan” tsb yg telah dan yg akan terjadi.
Ingatlah kpd nenek moyang dan leluhur kita, krn dari Beliau2lah kita ada di jaman sekarang ini dengan peradaban seperti skrg ini. Jangan pernah melupakan atau bahkan melecehkan sejarah dan peninggalan sejarah yang ada. Ini sangat DURHAKA.
Sebagai contoh lain, byk peninggalan2 sejarah berupa candi2 yg ditemukan, secara tidak bertanggung jawab dijual di pasar gelap.. bahkan candi yg sangat terkenal dan menjadi suatu warisan yg kita cintai, candi prambanan, juga bagian2 candinya dijual.. Banyak Pura/ candi ditanah jawa yang diruntuhkan.. Ini merupakan tindakan yg sangat durhaka dan tidak tahu diri.. Apa yg dihancurkannya itu adalah karya dari “orang tua” kita sendiri dan kepercayaan kita. Saya sangat heran dengan pemikiran org2 seperti ini.. TIDAK TAHU DIRI.. DURHAKA!!

Satriani - 31 Desember 2012

Maksud pembicaraan lo apa sih sebenarnya? Gadjah Mada bukan seorang muslim atau durhakanya orang yang jual warisan berupa peninggalan candi? Lo mengatakan bahwa tidak ada bukti Gajah Mada muslim, ada kok.. Check aja mata uang Majapahit, disitu berlafaz-kan syahadat dalam Islam.. sepertinya lo yang lebih banyak banyak sejarah..

3. agfianto - 22 Februari 2011

terima kasih kepada Chiell dan Kusni…

4. Sabda - 18 April 2011

Selamat sore..
Maap sebelumnya, untuk Pak Agfi saya rasa tulisan bapak pada bagian akhir sedikit kontroversi. Pada “Gadjahmada seorang muslim?”, penjelasan dibawahnya sama sekali tidak menjawab secara tegas akan pertanyaan yang bapak buat, seolah2 menggiring orang untuk berspekulasi. Jikapun Gadjah Mada seorang muslim, bisakah anda memberikan bukti2 terkait. kita tau sendiri Gadjah Mada hidup pada jaman kerajaan apa. Dan itu sebelum peradaban muslim datang ke indonesia. Dan saya rasa Bapak pasti bisa menelaah dan menganalisa lebih mendalam terkait dengan tulisan Bapak.

Salam
Sabda

5. Iwang Ala Minhaj - 2 Agustus 2011

Maaf ikut berkomentar.

Sebelumnya mari dimulai dari saya dan kita semua, membuka cara pandang pada fakta sejarah, tidak picik atau sempit pandang, mari kita hargai semua pendapat orang (meskipun blm didukung kuat dg bukti2), tetapi dimulai dari “rasa syukur” kita kepada Sang Pencipta atas karunia NUSWANTARA/INDONESIA yang tiada taranya beserta sejarah agung didalamnya.

Dan saya yakin kabut misteri Nuswantara ini suatu saat nanti akan terungkap dg sebenarnya melalui penemuan2 sejarah yg sekarang sedang dilakukan oleh sebagian anak bangsa yang peduli akan sejarah bangsanya, yang bebas dari intrik politik kepentingan penguasa dan warisan jajahan.

Jayalah NUSWANTARA!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: