jump to navigation

Gemar Membaca, Perkembangan Teknologi dan Kemandirian Bangsa 15 Maret 2010

Posted by agfi68 in Buku, pendidikan.
Tags: , , , ,
trackback

cover ahoySeiring dengan persaingan dalam era globalisasi dan perdagangan bebas, setiap bangsa dituntut untuk mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya saing tinggi. Penguasaan sumber daya manusia akan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus berkembang menjadi salah satu modal untuk menghadapi era tersebut, juga mampu membantu dan meningkatkan kualitas hidup manusia.

Indonesia sebagai salah satu negara berkembang sudah seharusnya mempersiapkan sumber daya manusianya agar dapat bersaing dalam era tersebut. Untuk mewujudkan hal tersebut, dibutuhkan penguasaan ilmu dan teknologi dan hal ini bisa dimulai dari jenjang-jenjang pendidikan, sejak Sekolah Dasar, SMP, SMU hingga Perguruan Tinggi.

Tentu saja tidak bisa dipungkiri, dalam masa-masa pendidikan tersebut kegiatan membaca buku, khususnya ilmu pengetahuan dan teknologi, menjadi hal yang penting dan perlu mendapatkan perhatian. Mengapa? Ilmu pengetahuan tidak hanya diperoleh dari bangku sekolah maupun perguruan tinggi, di luar sana, ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang sangat cepat, sementara kurikulum dam silabus pendidikan belum mampu mengimbangi kecepatan perkembangan tersebut. Ibaratnya, buku adalah jendela dunia, siapa yang banyak membaca berarti ilmu pengetahuan yang dimiliki juga akan semakin luas. Begitu juga, siapa yang malas membaca, maka pengetahuan yang dimiliki akan sempit. Faktanya, saat ini minat baca masyarakat Indonesia sebagai negara berkembang masih tergolong rendah dibandingkan minat baca masyarakat negara-negara maju. Dengan membaca diharapkan pola pikir masyarakat dapat tumbuh dan berkembang yang akhirnya akan berimbas pada terwujudnya sumber daya manusia yang handal dan dapat bersaing di dunia internasional.

Dengan demikian, menurut Moh. Nuh (Mendiknas RI 2009-2014), untuk menumbuh-kembangkan budaya membaca atau gemar membaca tidak bisa diselesaikan dengan undang-undang, tetapi justru harus dikembangkan kesadaran kolektif bagi masyarakat agar gemar membaca. “Kita itu kekurangan pada kolektivitasnya. Ada orang yang sangat gemar membaca di Indonesia, sangat banyak, tetapi banyaknya itu belum cukup menggerakkan dibandingkan dengan populasi penduduk kita. Paling tidak para pengelola perpusatakaan itu semuanya sudah gemar (membaca), tetapi berapa jumlah orangnya? Tidak ada sekian persen dari jumlah populasi. Oleh karena itu, kita perlu menumbuhkan kesadaran kolektif (gemar membaca)“, kata Pak Moh. Nuh saat membuka Seminar Nasional Pembudayaan Kegemaran Membaca di Perpustakaan Nasional RI, Jakarta, Senin (14/12/2009)

Dengan demikian, aktivitas membaca buku, terutama bukubuku ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi hal yang seharusnya dilakukan, minimal dalam ruang lingkup keluarga. Tentu saja membiasakan kegiatan membaca dalam lingkungan keluarga sendiri tidak mudah, tapi bisa dilakukan, biasanya diawali dari orang tua. Tentunya jika orang tua itu sendiri tidak menggemari kegiatan membaca buku-buku ilmu pengetahuan dan teknologi, bagaimana bisa menyuruh anak-anaknya untuk giat membaca? Menurut ketua Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (GPMB) Hj Suprihati, SH, MBA, sebenarnya kegemaran membaca sudah dapat dimulai sejak usia nol tahun yaitu sejak bayi dalam kandungan dengan cara, ibu yang sedang mengandung rajin-rajin membaca, kegiatan membaca ini terus dilakukan sampai lahir dan bayi tersebut merambah usia batita, balita sampai remaja dan dewasa.

Lantas apa hubungan gemar membaca dengan kemandirian bangsa?

Bangsa ini adalah bangsa besar yang memiliki kekayaan alam yang melimpah, namun karena tidak mandiri, kekayaan tersebut bisa menjadi ‘milik’ bangsa lain. Bangsa ini belum mampu mengolah sumber daya yang dimiliki sehingga orang lain-lah yang mengeruk kekayaan bangsa Indonesia. Mengapa sumber daya kita tidak mampu? Karena tidak memahami dan menguasai ilmu pentahuan dan teknologi yang terkait. Mengapa hal itu bisa terjadi? Karena tidak mau atau malas belajar, termasuk malas membaca buku-buku ilmu pengetahuan dan teknologi.

Jika menyoroti remaja-remaja atau generasi muda sekarang, kebanyakan mereka lebih suka membeli pulsa daripada membeli buku, mengapa mereka tidak suka membaca? Jawabannya bisa mengagetkan, “Gemar membaca tidak menjamin kesuksesan, tidak menjamin kaya, bla bla bla”, apalagi jika tidak gemar membaca, begitu komentar saya.

Untuk lebih menyadarkan kita, perlu kiranya saya kutip pernyataan Taufik Ismail (Kompas, 4/12/2007) saat menerima Habibie Award dalam bidang budaya pada tahun 2007, “Pembangunan Indonesia yang lebih bersifat materialistis telah menurunkan budaya membaca dan menulis anak bangsa. Pada masa penjajahan Belanda, selama tiga tahun sekolah setingkat SMA, diharuskan membuat 106 tulisan dan membaca 25 buku sastra dalam bahasa Inggris, Belanda, Jerman dan Perancis. Membaca dan menulis bukan hanya menambah pengetahuan. Namun juga menumbuhkan rasa kemanusiaan dan logika.

Untuk itu marilah kita mulai dari diri sendiri. Saat kita dihadapkan pada suatu masalah yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka sudah seharusnya merujuk ke buku-buku yang terkait dan (mungkin) sudah banyak beredar di Indonesia (dan juga bisa merujuk ke para pakar-pakar yang terkait). Tidak ada salahnya, mari kita masuk ke toko buku atau ke pameran buku, melihat berbagai macam buku yang ditawarkan, mencari yang sesuai dengan hobi, kepakaran, kesukaan kita untuk dibeli, dibaca, dipahami dan diterapkan. Luangkan waktu sejenak setiap hari di mana saja untuk membiasakan membaca buku-buku menarik dan bermanfaat. Ada baiknya kita matikan televisi kita, kita ajak anak-anak untuk belajar (sekaligus membaca) dan kita temani mereka dalam belajar dengan membaca buku-buku yang kita suka, apakah ilmu pengetahuan, teknologi informasi, teknologi elektronika, berkebun, bercocok-tanam, motivasi, reliji dan lain sebagainya.

Sudah saatnya kita menggalakkan budaya membaca, sehingga kita bisa memahami dan menguasai kemajuan-kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini. Kita punya piiihan, apakah ingin menjadi bangsa penonton atau bangsa yang terlibat sebagai agen-agen perubahan menuju kepada kemandirian?

Semoga Tuhan memudahkan langkah-langkah kita dalam mewujudkan Kemandirian Bangsa Indonesia, amin.

Yogyakarta, 24 Februari 2010

Dimuat dalam Booklet Pesta Buku Jogja 2010, 10-15 Maret 2010

Bagikan

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: